Merawat pesakit menggunakan Ayat-ayat Al-Quran dan doa-doa Rasullullah S.A.W. Diantara penyakit yang boleh dirawat seperti:-
1.Gangguan makhluk halus/Jin
2.Sihir/Guna-guna 3.Sawan/Demam campak/Demam panas
4.Demam/batuk/selsema/Sesak nafas
5.Kayap/kudis/gatal-gatal 6.Pelaris/Jodoh/Pengasih/untuk dapat anak 7.Pendinding diri,keluarga dan hartabenda 8.Bebal/susah belajar/was-was/anak yang hyperaktif 9.Pelembut /Penerang Hati/Pengasih Tanda-tanda adanya gangguan Jin/sihir/guna-guna 1. Sering sakit kepala terutama selepas waktu asar hingga malam 2. Badan terasa berat dan cepat letih walapun tidak melakukan kerja 3. Badan terasa berbisa-bisa atau gatal-gatal 4.Badan terasa sejuk panas tetapi tidak demam 5. Sakit dada selepas waktu asar ke atas 6.Susah tidur di waktu malam atau terlalu kuat tidur terutama di siang hari 7.Tiada selera makan berterusan atau terlalu kuat makan 8. Sering mimpi buruk atau mimpi yang serupa 9.Susah melakukan ibadah. 10.Meracau-racau,melihat kelibat makhluk halus 11.Melihat dengan nyata alam jin 12. Susah/sempit rezeki walaupun peluang banyak 13.Susah/berat jodoh 14.Cenderung melakukan maksiat dan susah untuk bertaubat 15.Baran,ego dan pemarah,senang bertengkar walau perkara remeh-temeh 16.Datang haid tidak teratur dan panjang 17. Bayi sering menangis menjelang magrib hingga tengah malam dan matanya mendongak ke atas 18.Badan terasa seram sejuk dan ketakutan 19.Gagal melakukan hubungan kelamin 20. Gangguan mental Sihir Mafhum Al-Quran surah Al-Falaq:Ayat 1 hingga 5 " Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,dari kejahatan makhlukNya dan dari kejahatan malam apabila telah gelap-gelita dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia berdengki"
Al-Azhari berkata:Sihir adalah perbuatan yang di dalamnya mendekatkan diri kepada syaitan dan mengharapkan pertolongan darinya.Hukum perbuatan sihir adalah Haram dan Dosa Besar. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata; Sihir adalah ikatan,penawar dan perkataan atau tulisan mantera yang ia berkata dengannya atau melakukan sesuatu yang boleh mendatangkan bekasnya ditubuh orang yang terkena sihir atau hatinya,aqalnya dengan cara tidak langsung.Ia merupakan satu hakikat yang nyata kerana diantara mangsanya itu ada yang mati,sakit,gila,suami tidak mahu mencampuri isterinya begitu juga sebaliknya,bercerai,tunduk,timbul kebencian dan kemarahan atau mengujudkan perasaan cinta dalam paksa. Dari Shafiyyah binti Huyai R.Anha bahawa Nabi S.A.W telah bersabda:"Sesungguhnya syaitan menyelusup ditubuh anak Adam di dalam pembuluh darahnya" ( Riwayat Bukhari) Kesimpulannya wujudnya sihir adalah suatu perkara yang benar.Islam juga telah mengajarkan kaedah rawatannya mengikut Al-Quran dan Sunnah Rasullullah S.A.Wasallam.
Sihir itu adalah hakiki (benar benar ada dan terjadi) sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allahu ta’ala : وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul (Al Falaq 4) Jika sihir itu tidak hakiki, maka tentunya Allah ta’ala tidak pernah menyuruh kita untuk memohon perlindungan kepadaNya dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir itu. Demikian juga firman Allahu ta’ala فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya ( Al Baqarah 102) Ayat ini menunjukkan bahwa sihir itu adalah hakiki dan bisa menjadi sebab (sarana) yang digunakan untuk menceraikan antara suami dengan istrinya. Dalil yang menunjukkan bahwa sihir itu hakiki adalah hadits ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha : : Bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam tersihir. Sehingga terkhayallah oleh Beliau bahwa beliau melakukan sesuatu padahal sebenarnya tidak melakukannya. Dan bahwasanya suatu hari beliau pernah berkata kepada ‘Aisyah : “Dua orang malaikat mendatangiku, lalu salah satunya duduk dikepalaku dan satunya lagi duduk dikakiku, lalu ia bertanya : “ Sakit apa orang ini?” Malaikat yang satunya menjawab : “Terkena sihir” Malaikat yang pertama bertanya lagi,: “Siapa yang menyihirnya” Malaikat kedua menjawab “Labid Ibnu Al A’shaam pada sisir dan rambut yang jatuh karena disisir, serta pada seludang mayang kurma yang terdapat di sumur Dzarwan.” (Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad, Al Bukhari, Muslim dan lainnya) Ini adalah pendapat ahlus sunnah wal jama’ah dan juga yang dipegangi oleh jumhur ulama islam Ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa sihir itu tidak hakiki. Ini adalah pendapat kaum Mu’tazilah yang jauh dari kitab dan sunnah. Mereka berdalil dengan firman Allahu ta’ala : قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِن سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى Berkata Musa :"Silahkan kamu sekalian melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. ( Ath Thaha 66) Dan Allahu ta’ala tidak mengatakan “bergerak cepat” secara hakiki. Kaum mu’tazilah ini mengatakan : Sesungguhnya sihir itu hanyalah kamuflase, imajinasi, dan tipuan terhadap keberadaan sesuatu yang tak punya hakekat, namun hanya merupakan bentum sulap atau magic. Al Allamah Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata : “Pendapat ini bertentangan dengan berbagai atsar yang mutawatir dari para sahabat dan salaf, serta bertentangan dengan yang telah disepakati oleh para fuqaha, ahli hadits, para arbabul qulub (ah;i tashawuf) dan juga dikenal oleh umunya manusia yang berakal. Sihir yang dapat memberikan pengaruh rasa sakit, beban berat, rasa ringan, rasa terikat, kecintaan, kebencian, kepalsuan dan sebagainay dari berbagai macam pengaruh yang bisa ditimbulkan itu memang benar benar ada dan dikenal oleh manusia secara umum” (lihat Badai’ul fawaid II : 227) Sedangkan Al Qurthubi setelah menyebutkan pendapat kaum mu’atzilah dan dalil mereka mengatakan : Pendapat ini sebenarnya tidak beralasan . Kami tidak mengingkari bahwa khayalan dan sebagainya itu termasuk dalam kategori sihir, namun dibalik itu terdapat berbagai hal yang pasti dapat diterima oleh akal dan disebutkan oleh nash. Diantaranya adalah terkandung dalam ayat ini tentang sihir dan pengajaran sihir yaitu firman Allahu ta’ala : وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَـكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُواْ لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُو Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu jangnalah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya . Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (Al Baqarah : 102) Seandainya sihir itu tidak hakiki, maka tak mungkin sihir itu diajrakan, dan Allah juga tidak akan memberitahukan bahwa mereka (setan-setan) itu mengajarkannya kepada manusia. Ini semua menunjukkan bahwa sihir itu memang hakiki. Bukti dari nash lainnya adalah firman Allah ta’ala : قَالَ أَلْقُوْاْ فَلَمَّا أَلْقَوْاْ سَحَرُواْ أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena’jubkan). (Al A’raf : 116) Dan juga surat Al Falaq yang telah disepakati oleh para mufassir bahwa sebab nuzulnya adalah berkenaan dengan sihir yang dilakukan oleh Labid bin Al A’sham. Selanjutnya Al Qurthubi membawakan hadits yang telah kita kedepankan diatas, lalu berkata : “Didalamnya disebutkan bahwa ketika sihir itu telah terlepas dari Nabi shalallahu ‘alahi wassalam, maka beliau kemudian berkata : “Sesungguhnya Allah telah menyembuhkanku”
|